Seberapa Pentingkah Self-love? - Aluska.ID

Pilihan

Home Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 02 Oktober 2020

Seberapa Pentingkah Self-love?




Ketika berbicara mengenai campaign self-love atau kampanye untuk mencintai diri sendiri, tentunya hal ini sudah tidak lagi asing dalam kehidupan kita. Hal tersebut sudah menjadi bahasan yang sangat populer di kalangan generasi muda saat ini, baik dalam pembicaraan sehari-hari maupun di media sosial. Tentunya, fenomena ini sangat menarik untuk dibahas. Oleh sebab itu kali ini saya akan sedikit membahas fenomena ini menurut pandangan saya.


DISCLAIMER : ARTIKEL INI DIBUAT BERDASARKAN OPINI DARI PERSPEKTIF PENULIS


Self-love yang berarti mencintai diri sendiri dengan melibatkan aspek menyadari diri sendiri, menghargai diri sendiri, percaya diri, dan peduli pada diri sendiri. Menurut Aristoteles (384-322 SM) tentang cinta-diri (filautia) dicatat dalam Etika Nicomachean dan Etika Eudemia. Nicomachean Ethics Book 9, Bab 8 berfokus padanya secara khusus. 


Dalam bacaan ini, Aristoteles berpendapat bahwa orang yang mencintai diri sendiri untuk mencapai keuntungan pribadi yang tidak beralasan itu buruk, tetapi mereka yang mencintai diri sendiri untuk mencapai prinsip-prinsip yang bajik adalah jenis kebaikan terbaik. Dia mengatakan bahwa jenis cinta diri yang pertama jauh lebih umum daripada yang terakhir. Kurangnya cinta diri meningkatkan risiko bunuh diri menurut American Association of Suicidology, Asosiasi melakukan penelitian pada 2008 yang meneliti dampak rendahnya harga diri dan kurangnya cinta diri dan hubungannya dengan kecenderungan dan upaya bunuh diri. Mereka mendefinisikan cinta-diri sebagai "kepercayaan tentang diri sendiri (self-esteem self-esteem).


Penerapan self-love sendiri bisa dilakukan dengan bermacam cara tergantung kepada masing-masing pribadi. Tentunya ada banyak sekali perilaku dan cara untuk menerapkan hal tersebut. Penerapan ini kembali kepada kecocokan dari diri masing-masing, namun yang paling umum dilakukan adalah dengan mengunggah foto diri sendiri tanpa peduli akan cemoohan dari para pengguna media sosial lainnya. Sebagai contoh lainnya, ada campaign mengenai berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kegiatan tersebut sangat marak digadang-gadangkan dan sempat menjadi trending topic di dunia internet. Apalagi, banyak sekali generasi-generasi muda yang akhirnya bisa bangkit dari rasa insecurity dan berbagai problematika mereka di dunia maya bahkan dunia nyata.


Baiklah, mulai dari sini akan menjadi pendapat dari pandangan saya sendiri. Menurut saya, self-love bagaikan dua sisi mata koin. Jika ditinjau dari sisi positif, maka campaign ini tentunya memiliki manfaat yang sangat terasa. Hal ini bisa menambah dan menunjang rasa kepercayaan diri, rasa syukur, serta kebermanfaatan bagi sesama, Tentunya hal ini amatlah baik dan sangat bermanfaat bagi generasi muda saat ini.

Namun, saya sangat menyayangkan apabila campaign self-love alih-alih menjadi suatu justifikasi diri akan suatu hal yang berkaitan dengan topik yang sensitif dan berujung pada kesalahan konsep dasar. 


Kesalahan yang saya maksud adalah, ketika akhirnya para generasi muda ini seakan berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan menjatuhkan pihak lainnya dengan alasan self-love. Kesalahan berikutnya adalah ketika para generasi muda ini kembali membanding-bandingkan ke-self-love-an mereka dengan para netizen atau kawan-kawan yang lainnya. Sungguh berujung kontradiksi apabila campaign yang awalnya didasari untuk meluruskan berbagai standar masyarakat, namun yang terjadi hanyalah membuat suatu standar baru.


Pada akhirnya, sesungguhnya self-love merupakan suatu campaign yang didasari untuk mematahkan suatu standar masyarakat, namun apabila berujung pada penyalahgunaan yang lebih banyak terjadi di hari ini, maka dapat saya asumsikan bahwa campaign tersebut tidaklah begitu penting dan hanyalah menimbulkan suatu rasa insecurity yang baru. Tetapi hal ini tetap kembali lagi kepada pribadi masing-masing.

(Ridzaldi Aqlian A - 02/10/2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad